Di Atas Kertas Penentuan

Dikamar ini aku termenung melihat hamparan sajadah yang kududuki masih membentang, malam semakin larut namun sang fajar tetap akan menjemput merubah hari bersama detik jam yang terus berputar, tak terasa pula sedikit demi sedikit mukena yang putih ini basah oleh sebuah doa yang penuh harapan. Besok yah besok adalah hari penentuan ku, tiga tahun ku berjuang dan banyak orang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya, yang tak pernah letih untuk membimbing ku, "Ya Tuhan apa yang akan terjadi besok? kemenanganku atau kekalahan yang akan ku dapatkan", kenapa 2 kata itu terus menari - nari di atas kepalaku ini. Mata ini sudah mulai letih, namun diri ini masih ingin terus menemani malam bersama kalimah-Nya, menunggu fajar datang.

Akhirnya fajar pun datang menjemput bersamaan dengan kumandang suara adzan subuh, ku ambil air wudhu dan ku kenakan kembali kain putih bersih ini, membalut dinginnya udara pagi yang menusuk tulang. Sebelum ku akhiri tak lupa ku pinta doa lagi pada yang Kuasa " Ya Rabb, berikanlah yang terbaik untuk hamba - Mu ini, Amien ", ku letakkan kain ini di tempatnya dan ku tutup kitab dan sajadah ini, tugas pagi siap di mulai dari nyuci piring sampai buat sarapan untuk keluarga tercinta. 07.30 tandanya aku harus meninggalkan istana ini, bersama doa restu dari kedua orang tua, ku langkahkan kaki ini menuju sekolah ku tercinta. Ku lihat suasana kampus ini sudah ramai, tak jauh berbeda dengan hari - hari yang sebelumnya, tapi perasaan ku yang berbeda, detak jatung mulai tak beraturan dan tak terasa tangan ini terasa dingin dan lembab. Tak seperti biasanya aku tidak langsung masuk kekelas, kali ini ku memilih untuk duduk di depan Lab bahasa karena dari sini saya bisa menikmati luasnya sekolah ku yang tak kalah megahnya dengan kantor gubernur banten, dan lebih asri di bandingkan dengan alun - alun serang, disini wanginya embun, kicauan burung masih jelas terdengar, apa lagi jika memandang pemandangan didepan sekolah, serasa di atas bukit dengan pohon beringin yang rindang menjadi peneduh dan hamparan sawah yang jadi objek untuk dinikmati.

" semua kelas tiga kumpul di mesjid " tanpa komando semua anak kelas 3 masuk kedalam ruangan yang menentramkan, suasana menjadi riuh ketika kepala sekolah datang dengan membawa kertas penentuan kami. ketika beliau memulai percakapannya, hening tak bersuara. 1 2 3 dan beliau pun mengumumkan kelulusan kami " Alhamdulillah semuanya lulus ", spontan kami semua mengucapkan hamdalah dan sujud syukur atas semuanya. Namun ada yang mengganjal perasaan ku " Apakah ini adil buat saya dan yang lain ", tiga tahun kami sekolah, tiga tahun mengais ilmu, tiga tahun kedua orang tuaku membiayai sekolah ku, ternyata hanya " lulus" dan "tidak lulus" yang menentukan semua itu. 16 mata pelajaran yang saya ikuti selama sekolah disini hanya 3 mata pelajaran yang di perjuangkan, lalu 13 mata pelajaran yang lain di anggap pelengkap saja? 3 tahun ku belajar hanya di gantikan dengan 3 hari, sebenarnya yang seperti apa standart pendidikan di Indonesia itu, apa di standartkan oleh nilai 6, waktu 3 hari atau kata "lulus".

Jujur ini tak adil, bagaimana buat mereka yang tidak lulus? di gantikan dengan ujian susulan? bagaimana pendidikan di Indonesia ini tidak bobrok jika standart pendidikan itu hanya di tentukan oleh UN (Ujian Nasional).

Penurut kalian standart pendidikan itu seperti apa?


7 komentar:

Lebah Ndut Sexy said...

Sungguh sangat tidak adil lagi apabila tidak ada "ujian" sehingga kita tak pernah tau sebenarnya apa yang telah kita peroleh.

Dan ujian adalah salah satu syarat utama seseorang untuk bisa naik ke level selanjutnya..

Adil atau tidak.., aahh.., biar mereka saja yang paham akan "dunia pendidikan" yang memutuskannya. Kalo saya sih hanya blogger biasa.., tdk pinter dan tidak bodoh. Asal bisa terus belajar (tdk harus duduk di dalam kelas atau baca2 buku), itu sudah sangat luar biasa :)

Terima kasih Yaa Allah.., telah memberi hamba kesempatan "belajar" setiap hari :)

*maap kalo komeng saya gak nyambung, wkwkwk..

japraxxx said...

pertama...slamat ea akhirnya lulus.. ^.^

sebenarnya c ga ad yg namanya standar pendidikan, pendidikan bkn cma diperoleh dr sekolah aj..dmanapun kita psti ad ssuatu nilai pendidikan yg diperoleh..
standar pendidikam diskolah blh lah ditentuin dgn ujian, klopun mo dirubah sangatlah sulit soalnya dh berlangsung dr dl...dan klo dirubah pun dgn cara apa? sulit jg nantinya..

*bingung :-s

Carlos said...

Hi Ifat,how are you?

NURA said...

salam sobat,,berkunjung jg nich,,trims kunjungannya ke ALJUBAIL .S.A

winwin said...

Alhamdulillah..
kisahnya sama spt saya dan temen2 di smkn 1 ngawi. Alhamdulillah kami lulus 100%
memang tak ada habisnya mengktitisi dunia pendidikan, tapi setuju atau tidak, saat ini negara kita masih memandang 'ijasah' sebagai salah satu hal yang penting utk kita.
sekarang marilah kita syukuri dulu hal ini, selanjutnya, mari kita melangkah menatap masa depan, menjadi pribadi yang lebih berguna bagi siapa saja. termasuk pendidikan dan negara tercinta kita..
semoga..
tetp semangat!!

reallylife said...

sebenarnya standart nasional belun bisa diterapkan, karena mutu pendidikan di setiap daerah tidak sama.
tingkatkan saja ilmu para guru yang mengajar jadi muridnya pintar juga kalo gurunya pintar

koko said...

selamat ata kelulusan anda
tapi..
tentu perjalanan masih panjang kawan..
semoga makin sukses aja...

Post a Comment

 

Mom Blog Published @ 2014 by Ipietoon